Pelatihan Pemandu Sekolah Lapangan Adaptasi Perubahan Iklim Untuk Mengatasi Kekeringan dan Banjir

//Pelatihan Pemandu Sekolah Lapangan Adaptasi Perubahan Iklim Untuk Mengatasi Kekeringan dan Banjir

Pelatihan Pemandu Sekolah Lapangan Adaptasi Perubahan Iklim Untuk Mengatasi Kekeringan dan Banjir

Pangkep (12/07)-Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pangkep, Hj. Ir.Sriwati M.Hum, membuka Pelatihan Pemandu Sekolah Lapangan Adaptasi Perubahan Iklim untuk Padi, Tambak, dan Pekarangan,  di Hotel Transit, Maros, Sulawesi Selatan, pada tanggal 12 Juli 2017.

Pelatihan dilaksanakan selama 6 hari, tanggal 12 – 17 Juli 2017, diikuti oleh 18 orang dari petani, PPL, POPT, dan Mitra Mandoti. Kegiatan ini bertujuan untuk menyiapkan pemandu sekolah lapangan adaptasi perubahan iklim untuk tambak, padi, dan pekarangan pada Program Membangun Ketahanan Pangan dan Ekonomi Kelompok Rentan melalui Pertanian Berkelanjutan di Wilayah Rawan Kekeringan di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Pelatihan tersebut diselenggarakan oleh Yayasan FIELD Indonesia dan Yayasan Mandoti , bekerjasama dengan  Dinas Pertanian Kabupaten Pangkep, dan didanai oleh The Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) atau Lembaga Wali Amanat Dana Perwalian Perubahan Iklim Indonesia (Trust Fund) – BAPPENAS, bekerjasama dengan USAID.

“Harapannya, program ini akan melaksanakan beberapa kegiatan dan menghasilkan. Perubahan iklim dapat memicu hama, sehingga Sekolah Lapangan akan memberikan makna dan bermanfaat, dapat mengatasi hama dan dapat meningkatkan produksi dalam kondisi perubahan iklim. Perubahan iklim ini harus dihadapi, untuk mengurangi efek negatif perubahan iklim, seperti terjadinya kekeringan dan banjir. Peningkatkan sumberdaya manusia melalui kegiatan Sekolah Lapangan ini sangat bagus sekali, sehingga terima kasih kepada Yayasan FIELD dan Mandoti, telah menempatkan program ini di Kabupaten Pangkep. Diharapkan produksi padi nanti bisa meningkat, dan melampaui rata-rata nasional” jelas Ibu Hj. Ir.Sriwati M.Hum, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pangkep.

Adanya pembuatan biopori itu bagus sekali, bagaimana meresapkan air (ke dalam tanah), dan air bisa digunakan lebih panjang. Maunya kegiatan ini tidak hanya di tiga desa tetapi di 65 desa semuanya. Kegiatan  ini nanti bisa dikembangkan dan menjadi contoh di desa-desa lainnya, lanjutnya. (HS)

 

This post is also available in: English

By | 2017-08-08T15:55:07+00:00 Juli 17th, 2017|Berita|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment

*