Kerangka Kerja Perikehidupan Berkelanjutan 2017-07-21T12:37:34+00:00

Kerangka Kerja Perikehidupan Berkelanjutan

Pengalaman dua puluh dua tahun bersama Sekolah Lapangan Petani PHT dengan jelas menunjukkan bahwa seiring meningkatnya pemahaman para petani mengenai dinamika ekologis yang ada di sawah mereka, meningkat pula kesadaran mereka mengenai konteks sosio-ekonomi yang lebih luas yang termasuk di dalamnya.  Hal ini, selanjutnya, meningkatkan keinginan dan kapasitas mereka untuk menjalankan aksi bersama untuk mengatasi sejumlah isu dan masalah yang menghadang. Fokus dan lingkup kegiatan SL-PHT dan pasca-SL-PHT ‘secara alami’ bergeser naik dan keluar, dan fokus awal pada pertanian-ekosistem pada tanaman padi secara perlahan bermorfologis menjadi suatu analisis sosial yang lebih luas.  Dimulai pada akhir tahun 1990-an, program Masyarakat PHT mulai menggunakan Kerangka Kerja Perikehidupan Berkelanjutan sebagai perangkat konseptual pegangan yang mengarahkan saling keterkaitan di antara aspek pembangunan yang berlainan, menempatkan perikehidupan warga sebagai titik pusat proses pembangunan.

Pendekatan Perikehidupan Berkelanjutan adalah suatu cara berpikir mengenai tujuan, lingkup dan prioritas pembangunan manusia.  Perikehidupan berisikan kemampuan, modal (termasuk sumber daya material dan sosial) dan kegiatan yang dibutuhkan sebagai cara untuk bertahan hidup. Suatu perikehidupan dikatakan berkelanjutan bila perikehidupan tersebut dapat mengatasi dan memulihkan guncangan dan himpitan serta menjaga ataupun meningkatkan kemampuan dan modal yang dimiliki pada saat sekarang dan di masa depan, dengan tidak hanya mengandalkan sumber daya alam.

Kerangka Kerja Perikehidupan Berkelanjutan berpusat pada kelompok manusia.  Tujuannya adalah membantu pihak pemangku kepentingan dengan berbagai perspektif untuk terlibat dalam kegiatan bertukar pikiran yang terstruktur dan dipahami dengan jelas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perikehidupan, makna pentingnya yang terkait, dan bagaimana faktor-faktor tersebut berinteraksi.  Hal ini, selanjutnya, dapat membantu mengidentifikasi langkah-langkah awal yang sesuai untuk mendukung perikehidupan.

Kerangka kerja terdiri dari tiga bagian yang berbeda, atau ranah analisis: Konteks kerentanan, serangkaian Modal Perikehidupan, serta Kebijakan, Proses, dan Kelembagaan. Kerangka kerja ini tidak bekerja secara linier, dan tidak berusaha menghadirkan suatu model tentang realita.  Melainkan, kerangka ini merupakan suatu cara yang sangat sederhana untuk mengarahkan isu, pengaruh, proses dan interaksi, yang dapat membantu dalam menyiapkan tujuan dan menyusun strategi dalam rangka meningkatkan keberkelanjutan dan memperbaiki perikehidupan.  Kerangka ini merupakan alat yang fleksibel, yang dapat diadaptasi untuk memenuhi kebutuhan pada keadaan-keadaan tertentu.

Modal Perikehidupan

Segi lima modal bertitik pusat pada kerangka perikehidupan, di dalam konteks kerentanan.  Segi lima secara visual memberikan informasi mengenai modal yang dimiliki warga, yang dapat memberikan pemahaman keterkaitan antara berbagai modal yang diharapkan oleh masing-masing orang, keluarga, dan anggota masyarakat.

Modal Manusia terdiri dari keterampilan, pengetahuan, kemampuan untuk bekerja dan kesehatan dalam kondisi yang baik yang secara bersamaan mendorong orang-orang mengejar berbagai strategi dan mencapai tujuan perikehidupan mereka.

Modal Sosial merupakan sumber daya sosial yang digunakan orang-orang untuk meraih tujuan perikehidupan. Modal sosial dikembangkan melalui:

  • jejaring dan hubungan, baik secara vertikal (patron/klien) maupun horizontal (di antara para individu dengan minat yang sama) yang meningkatkan kepercayaan dan kemampuan orang-orang untuk bekerja sama dan memperluas akses mereka ke berbagai lembaga, seperti organisasi politik atau sipil;
  • keanggotaan dalam kelompok formal yang sering mengikatkan pada kewajiban untuk saling bersepakat atau menerima kesepakatan aturan bersama, norma dan sangsi; serta
  • hubungan akan kepercayaan, kebersamaan dan saling berbagi yang dapat memfasilitasi kerja sama, mengurangi pengeluaran bertransaksi dan  menyediakan landasan dasar bagi jaring pengaman informal di antara kelompok miskin.

Modal Alam merupakan istilah yang digunakan untuk sumber daya alam yang dimanfaatkan ataupun dinikmati secara langsung (misalnya, pertanian, perikanan) atau dari tempat sumber alam itu mengalir dan tersedia (misalnya, siklus nutrisi, perlindungan erosi) yang bermanfaat bagi perikehidupan yang bersangkutan.  Hubungan antara modal alam dan Konteks kerentanan sangat dekat sekali.

Modal Fisik terdiri dari infrastruktur dasar dan pihak penghasil barang yang diperlukan untuk mendukung perikehidupan.  Hal ini termasuk beberapa komponen penting seperti:

  • dapat diandalkan dan terjangkau;
  • bangunan dan tempat perlindungan yang aman;
  • pasokan air yang mencukupi dan sarana sanitasi;
  • energi yang murah; serta
  • akses informasi (komunikasi).

Modal Keuangan bermakna sumber daya keuangan yang digunakan oleh orang-orang untuk mencapai tujuan perikehidupan mereka, termasuk aliran atau cadangan dana dan berkontribusi terhadap konsumsi serta produksi.  Akses modal keuangan — misalnya, kredit — kerap kali sama pentingnya dengan dana modal.

Konteks Kerentanan

Konteks Kerentanan merupakan kerangka dari lingkungan eksternal tempat masyarakat berada.  Perikehidupan orang-orang dan ketersediaan modal yang lebih luas sangat dipengaruhi oleh kecenderungan yang kurang menguntungkan serta guncangan dan musiman — yang bisa saja membuat mereka menjadi terbatas atau tidak berkuasa.  Faktor-faktor ini memiliki dampak langsung terhadap kehidupan dan modal masyarakat, dan pilihan yang terbuka bagi mereka untuk memperoleh penghasilan dari perikehidupan mereka.

  • Guncangan dapat menghancurkan modal yang dimiliki seseorang atau memaksa seseorang meninggalkan rumah dan sumber perikehidupan yang dimiliki.  Guncangan termasuk bencana alam, guncangan ekonomi, gagal panen maupun wabah, dan konflik.
  • Kecenderungan lebih dapat diperkirakan, meskipun tidak bisa dikatakan kurang merisaukan.  Kecenderungan termasuk di antaranya perubahan teknologi, kecenderungan ekonomi tingkat nasional maupun internasional, perubahan dalam pola pemakaian sumber daya, dan pergeseran demografis/penduduk.
  • Perubahan secara musiman termasuk fluktuasi harga, ketersediaan pangan dan kesempatan kerja.

Faktor-faktor ini secara langsung berdampak pada kehidupan masyarakat, namun hanya sedikit individu maupun kelompok kecil warga yang dapat mengurangi kerentanan mereka, selain menjadi waspada akan tekanan-tekanan di dunia kerja mereka dan bekerja jeras meningkatkan ketahanan mereka, serta mencari langkah pemulihan pada tingkatan Kebijakan, Proses, dan Kelembagaan (misalnya, perubahan kebijakan, bantuan dari pemerintah maupun dari LSM).

Kebijakan, Proses, dan Kelembagaan

Kebijakan, proses dan kelembagaan dalam kerangka kerja perikehidupan adalah lembaga-lembaga, organisasi-organisasi, kebijakan-kebijakan dan perundangan yang membentuk perikehidupan.  Hal ini berupa norma, praktek dan struktur kebudayaan. Kebijakan, proses, dan kelembagaan bekerja di semua tingkatan, mulai dari rumah tangga hingga arena internasional, dan di semua lapisan, mulai dari yang paling pribadi hingga yang paling umum.  Semua itu secara efektif menentukan:

  • akses dan ketersediaan bebagai jenis modal, strategi perikehidupan dan lembaga pengambil keputusan dan sumber pengaruh;
  • syarat pertukaran di antara berbagai jenis modal; dan
  • Imbalan (secara ekonomi dan lainnya) terhadap tiap strategi perikehidupan yang disediakan.

Berbeda dari faktor yang ada dalam Konteks Kerentanan, semua individu dan warga masyarakat (bahkan kelompok miskin) dapat memiliki pengaruh dalam menentukan kebijakan, proses dan kelembagaan yang berdampak pada perikehidupan mereka.  Strategi dapat berkisar dari resistensi pasif hingga keanggotaan aktif dalam lembaga-lembaga pengambil keputusan.

Kebijakan, proses dan kelembagaan berkecenderungan terbentuk dari faktor-faktor yang ada dalam Konteks Kerentanan, juga keterkaitan dengan modal yang dimiliki warga yang mereka kaitkan.  Hubungan tersebut dialektikal, karena kebijakan, proses dan kelembagaan dapat menekan maupun mengendalikan guncangan, kecenderungan dan perubahan musiman. (misalnya, hubungan antara kebijakan konservasi hutan dan banjir, erosi dan kekeringan), juga ketersediaan, akses, dan perubahan nilai berbagai modal perikehidupannya.

Bersama Masyarakat PHT dan program SLP lainnya, pendekatan partisipatif (termasuk pelatihan dari petani ke petani, riset aksi dan dialog mengenai kebijakan) digunakan untuk melakukan transformasi terhadap berbagai jenis modal (termasuk modal alam, manusia dan sosial) menjadi hasil perikehidupan yang bernilai positif, yakni keamanan pendapatan, pasokan pangan dan kesehatan, dan peningkatan warga masyarakat sipil di pedesaan.

This post is also available in: English