Kembalikan Kedaulatan Petani

//Kembalikan Kedaulatan Petani

Kembalikan Kedaulatan Petani

Pameran Daulat Para Jagoan di Bentara Budaya Jakarta

Jakarta, KOMPAS – Seiring makin tingginya kebutuhan pangan, nasib petani tak kunjung jelas. Mereka tersandera gempuran produk benih, pupuk, dan pestisida para pemodal besar. Meski demikian, di pelosok Indramayu, Jabar, sekelompok petani bangkit dan berjuang mengembalikan kedaulatan.

Kisah perjuangan para petani Indramayu ini dikisahkan dan ditampilkan dalam pameran Daulat Para Jagoan di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (5/6) malam. Beberapa petani Indramayu yang aktif dalam pengembangan pola tanam ramah lingkungan hadir dalam pameran yang dibuka oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ini. Tampil pula tiga seniman yang menampilkan karya lukisan dan wayang dengan tema utama ketahanan pangan.

Warsiyah (57), pemandu petani program Save and Grow yang didanai Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia, mengatakan, saat ini petani kurang menyadari potensi lingkungan, tetapi justru semakin bergantung pada benih-benih impor, obat-obatan kimia, serta pestisida. “Harapan saya, petani kita semakin mandiri dalam hal pangan, bisa menyediakan benih sendiri tanpa harus memakai pupuk kimia atau pestisida,” kata dia.

Menurut Warsiyah, alam sebenarnya telah memiliki jaring makanan yang membawa kepada keseimbangan ekosistem. Karena itulah ia bersama kelompok tani binaannya mencoba berdaulat dengan memanfaatkan berbagai macam potensi alam untuk mengembangkan pertanian.

Darmin (55), petani yang juga aktif dalam program Save and Grow, berusaha menyilangkan padi dan menemukan kembali varietas lokal yang kini telah dilupakan. Hingga sekarang, Darmin telah berhasil memuliakan 125 galur atau calon varietas padi dan 4 galur diantaranya telah diluncurkan dan dibudidayakan masyarakat.

Berkat ketekunan dan perjuangan, para petani Indramayu tersebut akhirnya mampu memproduksi formula pupuk organik sendiri, menghasilkan benih tanaman lokal unggulan, serta tanaman mereka bebas dari serangan hama. Sampai sekarang ada lima kelompok tani di Indramayu yang belajar mengenal ekosistem dan pola tanam ramah lingkungan dari petani-petani mandiri ini.

Direktur Eksekutif Bentara Budaya Jakarta Hariadi Saptono mengatakan, para petani di Indramayu dengan segala pemikiran dan ideologinya merupakan para “jagoan” yang mampu berdaulat sebagai petani.

Seni bertema pertanian

Selain para petani, tampil juga dalam pameran ini tiga seniman, yaitu Rastika (72), pelukis kaca asal Cirebon yang diwakili putranya, Kusdono, pelukis wayang kulit dan komikus wayang kontemplatif asal Yogyakarta, Herjaka HS (57) serta Sujono (34), seniman wayang dan topeng asal Magelang. Ketiga seniman ini menampilkan karya dengan tema utama seputar pertanian.

Salah satu karya Herjaka berjudul “Sri Import” merupakan lukisan satire yang menggambarkan situasi panen raya, tetapi justru datang monster-monster asing pengimpor beras. Begitu juga lukisan “Sri Tikus” yang berkisah tentang tikus yang mati di lumbung bukan karena kelaparan, melainkan ketamakan.

Tri Rismaharini menambahkan, masyarakat kini menghadapi tantangan nyata menghadapi kawasan perdagangan bebas ASEAN 2015. Untuk menghadapinya, masyarakat harus bersiap-siap bangkit untuk mengembangkan kemandirian pangan. “Jika kita mau berusaha, kita bisa bertahan dan berdaulat.” Ujarnya. (ABK)

Sumber: Kompas, Jumat, 6 Juni 2014.

This post is also available in: English

By | 2017-07-21T12:38:15+00:00 Juni 17th, 2014|Berita|0 Comments

Leave A Comment

ERROR: si-captcha.php plugin: GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them to enable GD image support for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin: imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them to enable imagepng for PHP.