Daulat Para Jagoan dari Indramayu

//Daulat Para Jagoan dari Indramayu

Daulat Para Jagoan dari Indramayu

Seekor capung yang datang dari sawah percobaannya adalah bahasa alam yang nyata. Dwi Agus (20), petani muda dari Kelompok Tani Lestari Agung, berseri-seri. Dia tengah berkomunikasi dengan alam dan berupaya berdaulat sebagai petani arif pecinta lingkungan.

Oleh RINI KUSTIASIH dan HARIADI SAPTONO

“Ini saya dapat lagi. Sudah lengkap binatang sawah yang saya kumpulkan. Sudah ada belalang, laba-laba, belut, danangge-angge (anjing tanah),” ujarnya sembari menunjukkan sekantong plastik penuh binatang sawah di tangannya. Ia buru-buru menyusul anggota kelompok yang lain untuk segera “sekolah” di rumah Tasiyan (70) di Desa Tulungagung, Kecamatan Kertasemaya, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Keberadaan petani dengan “kultur merdeka”, berkeahlian, dan paham lingkungan sangat penting. Tak kurang 66 persen dari 1,7 juta penduduk Indramayu adalah petani, termasuk petani penggarap tanpa hak milik sawah. Indramayu adalah salah satu lumbung beras selain Kabupaten Karawang. Luasan tanaman padi selama setahun rata-rata 220.000 hektar di Indramayu dan kontribusinya 12,96 persen produksi Jabar atau 2,62 persen nasional dengan produksi gabah kering panen rata-rata 1,5 juta ton per tahun.

Di teras rumah Tasiyan, anggota Kelompok Tani Lestari Agung yang berjumlah 25 orang berkumpul, lesehan beralaskan tikar, dan menyimak pemandunya, Warsiyah (57), menjelaskan maksud dan tujuan mereka diminta mencari binatang sawah. Sebuah papan dengan kertas terjuntai yang dilekatkan padanya adalah sarana Warsiyah untuk menggambar, mencoret, dan menerangkan kepada petani layaknya seorang guru kepada murid, “Dadi mangkenen ya. Kuen satwane dicatet bari digambar ning kertas siji-siji. Engko digawe grafise,” kata Warsiyah. Ia meminta binatang yang ditemukan itu satu per satu dicatat dan digambar pada kertas yang disediakan. Hasil pengamatan dan temuan petani akan dibuat grafis yang menunjukkan perkembangan harian di sawah percobaan mereka.

Kegiatan itu digeluti Warsiyah, lelaki asal Desa Kalensari, Kecamatan Widasari, Indramayu, sejak November tahun lalu. Ia menjadi pemandu petani dalam program Save and Grow yang didanai Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO). Ada lima kelompok tani di Indramayu yang dia pandu untuk belajar mengenai ekosistem dan pola tanam ramah lingkungan. Setiap kelompok beranggotakan 25-27 pria dan perempuan. Kegiatan itu sebagai sekolah lapangan.

Tidak seperti di bangku sekolah, petani diajak berdiskusi serta secara aktif mengamati dan mencatat perkembangan di lahannya. Menurut Warsiyah, daerah binaannya meliputi wilayah Indramayu timur hingga barat. Pengaruh Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) dan program Save and Grow disebarkan sedikitnya ke 13 kecamatan dari 33 kecamatan di Indramayu.

Seperti pagi itu, seusai turun ke sawah sekitar dua jam, mereka berkumpul di teras rumah Tasiyan. Pemandu menuliskan apa pun pendapat petani di papan. Lalu, petani lain menyanggah dan memberikan bukti lain sesuai pengamatannya di lapangan. Diskusi panjang tetapi konkret itu diakhiri kesimpulan dan makan siang bersama dengan duit gotong royong.

Petani berkesadaran

Bagi Warsiyah, berbagi ilmu kepada petani adalah bagian dari perjuangan, puncak kesadarannya bahwa petani Indramayu harus mandiri, cerdas dan tidak bergantung kepada pihak lain. Ia menyadari, kemiskinan petani justru dipicu oleh keadaan petani yang tidak bisa melepaskan diri dari produk pertanian pabrikan, termasuk produksi badan usaha milik negara. Hampir di setiap lini petani harus membeli benih, pupuk, dan obat-obatan. Bangkrut sudah!

Bibit kesadaran itu tumbuh saat Warsiyah pertama kali menjadi peserta sekolah lapangan pengendalian hama terpadu (SLPHT) yang menjadi program Badan Perencanaan Pembangunan Nasional pada 1988-1998. Program itu diadakan sebagai jawabab atas merebaknya hama di sawah akibat overdosis segala macam obat dan pupuk kimia untuk meraih kecukupan beras pada era Orde Baru yang mencanangkan program Revolusi Hijau. Petani dibekali dengan ilmu baru, yakni tidak semua serangga adalah hama yang harus dibasmi, hanya perlu dikendalikan. Kini, Warsiyah berusaha “membangunkan” petani dari tidur di atas “kasur ketergantungan dan nafsu konsumtif”.

Dalam benak petani yang terdidik, muncul pengertian bahwa serangga hidup dalam jaringan ekosistem antara satu dan yang lain, tak terpisahkan. Saat salah satu elemen dihilangkan secara paksa, timbul anomali dan ketimpangan. Begitu halnya ketika obat kimia dipakai untuk membasmi wereng, secara tidak langsung obat itu meracuni serangga lain dan mengacaukan keseimbangan alam. Pada jangka lama, serangga kebal, padi dan tanaman lain teracuni, dan orang yang mengkonsumsi gampang mati.

Pada 1998, kemelut politik membuat program SLPHT terhenti. Warsiyah dan petani yang pernah mengecap sekolah itu mendirikan IPPHTI Indramayu. Petani Indramayu dari sejumlah daerah mekar di sini, seperti Karsinah (73) dari Desa Segeran Kidul, Kecamatan Juntinyuat. Ia membuat ramuan dari bahan alami untuk mengendalikan hama di lahannya selua 0,5 hektar, memanfaatkan kecubung serta kencing sapi dan kambing untuk obat semprot.

“Saya manfaatkan sisa buah dan sayur serta kotoran sapi untuk pupuk tanah agar kesuburannya terjaga. Sejak 2003, saya tidak pakai pupuk dan obat-obatan kimia,” kata Karsinah yang sehat, giat, dan jernih nalarnya di usia tua. “Organik, kok, dilawan,” selorohnya saat kami ke rumahnya, beberapa waktu lalu, untuk persiapan pameran petani di Bentara Budaya Jakarta, 5-15 Juni 2014.

Pada 2002, tumbuhlah fase kesadaran kedua bagi petani Indramayu, Tahun itu, anggota IPPHTI Indramayu mengikuti Sekolah Lapangan Pemuliaan Tanaman Partisipatoris. Tak kurang dari 45 petani IPPHTI mengikuti program itu. Mereka belajar menyilangkan padi dan menemukan kembali varietas lokal yang terlupakan.

Sumber: Harian Kompas, Kamis, 5 Juni 2014.

This post is also available in: English

By | 2017-07-21T12:38:15+00:00 Juni 17th, 2014|Berita|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment

ERROR: si-captcha.php plugin: GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them to enable GD image support for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin: imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them to enable imagepng for PHP.